Perancis – Kekalahan pertama diderita Italia di
matchday terakhir fase penyisihan grup, Pemuncak klasemen tersebut harus takluk
dari Irlandia 1-0. Gol Brady di menit 85 memupus harapan Italia sempurnakan
poin sebelum menjalani laga berat di 16 besar melawan Spanyol.
Berbekal
kemenangan 2 kali melawan Belgia dan Swedia, membuat Italia otomatis lolos fase
berikutnya, saat melawan Irlandia Italia tanpa beban dan coba menurunkan pemain
cadangannya. Buffon yang selalu setia mengawal gawang Italia kini menikmati
pertandingan di bangku cadangan digantikan Sirigu, Chiellini juga
diistirahatkan dan Conte memberi kesempatan Ogbonna mengisi posisi kosong
tersebut.
Begitu juga
di barisan tengah, nama Candreva tak lagi muncul sebagai starting line up.
Praktis nama-nama seperti Immobile yang harus menggantikan tugas Candreva
sebagai pengatur serangan.
Dengan
diistirahatkannya beberapa pemain penting, membuat kekuatan Italia cukup
tereduksi. Bagian pertahanan tidak begitu terlihat, namun bagian tengah pasukan
Conte ini berkali-kali kecolongan bola.
Barisan
penyerangan juga tak menunjukkan pergerakan yang cukup efektif, hamper sepanang
babak pertama Italia tak memberi ancaman berarti pada gawang Irlandia. Babak
kedua Conte meningkatkan serangan dengan masuknya El Shaarawy menggantikan De
Sciglio yang kali ini posisinya ditarik lebih kedepan.
Dengan
mengurangi kekuatan di sector belakang menjadikan bluner untuk Italia yang
memang sejak awal terus mendapat tekanan dari Irlandia. Mereka dikejutkan oleh
gol Brady ke gawang Sirigu, sontak seluruh pendukung Irlandia bersorak
merayakan gol telat tersebut. Harapan Irlandia untuk menemani Italia dan Belgia
semakin terbuka jika keunggulan ini bertahan hingga laga usai.
Italia
rupanya tak mampu mengejar ketertinggalan dan harus berlapang dada menerima
kekalahannya. Karena mereka tak boleh larut dalam moemen ini mengingat Spanyol
telah menanti di 16 besar, tugas Conte semakin berat memberi bukti pada dunia
sepakbola
Perancis – Stade de Lumieres menjadi saksi tumbangnya generasi emas Belgia dihadapan pasukan Italia dengan skor 2-0. Giaccherini dan Pelle berhasil menaklukkan ketangguhan kipper muda Belgia, Thibaut Courtois dengan gol-gol cantiknya.
Antonio Conte berhasil menjawab keraguan banyak pihak yang mempertanyakan komposisi pemain di Euro 2016, pasalnya mantan pelatih Juventus ini menyertakan nama-nama asing dan tidak membawa beberapa nama sebagai langganan timnas. Namun kejeliannya membaca strategi lawan dengan menempatkan 4 mantan anak asuhnya di Juventus sebagai palang pintu akhir Italia, membuat Belgia frustasi karena gagal mencetak gol.
Buffon, Barzagli, Bonucci dan Chiellini menjadi barisan yang sangat sulit ditembus oleh barisan penyerangan Belgia. Dikomando oleh pemain tengah sekelas Eden Hazard, membuat Italia harus ekstra hati-hati agar tidak mengulangi kesalahannya, kalah 1-3 seperti November lalu.
Permainan Belgia cukup hati-hati, mengingat dalam laga ini mereka lebih diunggulkan daripada Italia karena komposisi pemain dan peringkat FIFA yang memiliki jarak cukup jauh yaitu 2 dan 12. Berbanding terbalik dengan Italia yang tampil tanpa tekanan, mereka hanya beberapa kali memanfaatkan kelengahan Belgia untuk melakukan serangan balik cepat.
Berawal dari rasa frustasi Lukaku di menit 29 dan kemudian melakukan pelanggaran pada Chiellini, membuat Mark Clattenburg memberikan hadiah tendangan bebas pada Italia. Eksekusi diambil langsung oleh Bonucci, tendangan bebas bek Juventus ini disambut oleh Giaccherini yang langsung menceploskan bola ke sudut kiri bawah gawang Courtois.
Italia akhirnya memimpin laga dengan skor 1-0 hingga akhir babak pertama. Tak ingin semakin tertinggal Belgia semakin gencar melakukan serangan terhadap Italia, sayangnya harus menemui jalan terjal saat striker Belgia berhadapan langsung dengan kipper gaek Italia, Buffon.
Italia sempat kelimpungan saat Pelle harus ditarik keluar sementara untuk mendapat perawatan pada tangannya yang cedera, namun setelahnya Italia kembali bisa mendominasi di babak kedua. Memasuki menit 70 Italia harus ekstra waspada jika tidak ingin berbagi angka, gempuran Belgia coba mereka patahkan meskipun menghasilkan kartu kuning bagi para pemainnya.
Asyik menyerang Belgia tidak mengantisipasi serangan balik yang dilakukan Italia, pergerakan Candreva ke sisi kiri gawang Courtois terkejar, namun dengan cerdiknya pemain Lazio ini mengirim umpan silang kepada Pelle yang tak terkawal. Umpan Candreva disambut dengan tendangan first time oleh pemain andalan Southampton dan menambah keunggulan bagi Italia 2-0.
Gol Pelle di babak tambahan waktu ini membuat seluruh pemain dan staff yang berada di bench bersorak menyambut kemenangan pertama mereka. Beberapa dari mereka berlari masuk lapangan merayakan selebrasi atas gol Pelle. Bersamaan dengan itu, Mark Clattenburg meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Hasil ini membawa Italia memuncaki klasemen sementara dan membenamkan Belgia ke posisi juru kunci. Forza Azzurri Forza Italy.
~END~
Pertandingan selanjutnya
14/6/2016 11.00pm : Austri vs Hungaria (Grup F)
15/6/2016 2.00am : Portugal vs Islandia (Grup F)
Badai cedera yang dialami pemain sepakbola merupakan
sebuah bencana, namun dapat juga membawa berkah bagi pemain lainnya. Hal ini
yang mungkin dirasakan oleh kiper muda AC Milan, Gianluigi Donnarumma. Gagalnya
Perin mengamankan satu tempat untuk kiper Azzuri pada Euro 2016 Prancis
mendatang akibat cedera lutut, membuka kesempatan bagi Donnarumma.
Pic 1 : Mattia Perin gagal tampil di Euro 2016 akibat cedera lutut
Sebelumnya Mattia Perin telah naik pangkat menjadi
kiper pelapis kedua Buffon, menggeser kiper PSG, Salvatore Sirigu. Seiring
cedera yang dialami dan membuatnya terdepak dari tim, maka posisi kedua kembali
diisi oleh Sirigu. Kini Conte mulai memutar otak untuk mengisi kekosongan kursi
ketiga kiper timnas Italia.
Nama Donnarumma disebut-sebut sebagai kandidat kuat,
mengingat performa apiknya bersama AC Milan. Sebelumnya kiper kelahiran tahun
1999 ini telah memiliki pengalaman bermain di timnas U-17, dan Maret lalu
memulai debutnya dengan timnas U-21. Pada debut tersebut Donnarumma juga
mencatatkan rekor menjadi pemain termuda Italia yang berlaga di timnas U-21.
Prestasi yang cukup bagus mengingat umurnya yang baru saja genap 17 tahun pada
25 Februari lalu.
Pic 2 : Doonarumma tampil apik dengan AC Milan
Mendengar kabar yang cukup santer terdengar di
kalangan sepakbola, Donnarumma sendiri juga menaruh harapan besar pada Conte
untuk memanggilnya. “Saya berharap bisa menjadi kiper senior” itulah yang diucapkan
pria kelahiran Castellammare di Stabia pada Vivoazzuro beberapa waktu lalu.
Meskipun kecil kemungkinan Donnarumma bermain untuk Euro saat dia dipanggil
timas, tapi harapan tersebut tak pernah surut dari benaknya.
Pertanyaannya, beranikah Conte mengambil resiko dengan
menempatkan Donnarumma sebagai kiper ketiga Azzurri..? Dan siapkah Donnarumma
menjawab keraguan fans dan juga pelatih dengan performa apiknya kelak..? Euro
2016 di Prancislah yang akan menjawab.
Pic 3 : Donnarumma siap tempati jabatan kiper ketiga Azzurri
Where there is a will, there is a way agaknya
peribahasa tersebut pantas disematkan pada klub serie A Italia yang baru saja
meraih Scudetto pada pekan ke – 35, Juventus. Sederhana saja, kemauan klub asal
Turin ini akhirnya membuahkan hasil dengan Scudetto sebanyak 5x secara
beruntun. Istimewanya ditahun ini adalah, karena mereka mengawali musim dengan
sangat buruk, namun dapat mengakhirinya dengan begitu manis.
Pengamat maupun penikmat sepakbola harus rela menjilat
ludah sediri karena telah meremehkan kemampuan Massimiliano Allegri dalam
menangani klub papan atas sekelas Juve. Banyak yang memprediksi jika ditahun
keduanya menangani Nyonya Tua, Allegri akan terpuruk seperti yang telah
dialaminya saat memagang kendali kepelatihan AC Milan. Juventus tak bisa
dipandang sebelah mata, karena mereka memiliki skuad yang lebih kompeten
dibanding Milan. Jangan pula lupakan apa yang telah ditinggalkan oleh Conte di
klub ini cukup membekas, yang tidak dimiliki Milan kala itu, mental juara
disetiap nadi pemainnya.
Keraguan akan kemampuan Allegri muncul di pekan
pertama serie A bergulir yaitu pada tanggal 23 Agustus 2015. Kala itu Nyonya
Tua mendapatkan lawan tangguh di Juventus Arena, Udinese dan benar saja mereka
harus menelan kekalahan pertama di kandang musim ini dengan skor 1-0 untuk
keunggulan Udinese. Pekan kedua giliran Juve bertandang ke Olympico Stadium, markas
Roma yang notabene menjadi kandidat dalam perburuan Scudetto. Awan hitam belum
juga beranjak, Juve kembali gagal dan menelan pil pahit dengan skor 2-1.
Performa yang cukup buruk bagi penyandang status juara
Serie A musim 2014/2015, karena dalam 10 laga pertama Juve hanya berhasil
meraih tiga kemenangan, tiga hasil seri dan lainnya berakhir dengan kekalahan.
Kemenangan yang didapatpun juga tidak mudah, saat lawan Genoa Juve diuntungkan
dengan gol bunuh diri kiper penggati Perin, Lamanna. Sedangkan gol kedua
didapat dari eksekusi Paul Pogba dari titik putih.
Berbekal tekad kuat serta kerja keras dari segenap
pemain dan semakin padunya lini per lini, Juve mulai bangkit dan menunjukkan
taringnya di kompetisi nomor satu daratan Italia tersebut. Setelah kalah dari
Sassuolo di pekan 10, Juve meraih kemenangan demi kemenangan di setiap
pekannya, total ada 15 kemenangan yang didapat Juventus secara beruntun. Hanya
Bologna yang mampu menghentikan dominasi Juventus, itupun hanya berhasil
menahan imbang dengan skor 0-0. Hingga pekan ke 35 kemarin Juve selalu meraih
kemenangan sehingga memperlebar jarak dengan pesaing terdekatnya, Napoli.
Keberhasilan Buffon dkk dalam meraih Scudetto musim
ini sudah tercium kala mereka menang di kandang Fiorentina, meskipun Napoli yang
membuntuti di posisi kedua masih memiliki sisa laga lebih banyak yang belum
dimainkan. Gelagat optimis pemain Juve mulai terlihat, saat beberapa pemain
mulai mem-posting gambar dan video di
akun instagram pribadi seperti yang dilakukan oleh Bonucci, Dybala, Buffon dan
beberapa pemain lainnya.
Pelangi itu akhirnya muncul setelah tersiar kabar
Napoli telah dihempaskan oleh Roma dan akhirnya Juve dipastikan juara musim
ini. Dengan catatan 35 pertandingan yang telah dimainkan keduanya, Juve meraih
85 poin dan Napoli 73 poin. Dengan 3 pertandingan sisa jika Napoli
menyelesaikan semua dengan kemenangan dan Juve menyelsesaikan dengan kekalahan,
maka poin akhirnya hanya 82 poin masih terpaut 3 poin. Jadi apapun yang terjadi
dipertandingan sisa, tidak akan mempengaruhi posisi Juventus yang nyaman di
puncak klasemen.
Ditengah kemeriahan selebrasi Juventus, terselip
kesedihan akibat cedera yang dialami gelandang Juventus Claudio Marchisio.
Namun jasa pahlawan Juve ini tidak begitu saja dilupakan oleh punggawa lainnya.
Buffon kiper nomor satu di skuad Juventus maupun Italia ini mendedikasikan
historis Juve yang pertama untuk pria kelahiran 19 Januari 1986. Begitu juga dengan
yang dilakukan oleh Bonucci dan punggawa lainnya yang merayakan kemenangan
tidak terlalu berlebihan. Bonucci bahkan begitu terpukul atas cedera yang
dialami Marchisio, karena skuad begitu merasa kehilangan.
Dari apa yang telah dialami Juventus di serie A, bisa
dijadikan sebagai panutan dalam mengejar dan meraih cita-cita. Tidak ada yang
tidak mungkin saat usaha keras yang dilakukan mendapat restu Tuhan untuk
mewujudkannya.
Tuhan memberi cobaan kepada umatnya untuk menguatkan
dan sebuah simbol kasih sayang. Begitulah mungkin yang kini dirasakan oleh
pelatih Italia, Antonio Conte. Mantan pelatih yang telah memberikan gelar
scudetto untuk Juventus ini harus rela kehilangan dua punggawanya sebelum ajang
Euro 2016 di Prancis berlangsung. Meskipun skuad resmi belum diumumkan namun
absennya pemain ini cukup memberikan beban mental kepada pelatih untuk
menemukan solusi tepat bagi strategi permainan Italia kelak.
Pic 1 : Mattia Perin & Claudio Marchisio gagal turut serta Euro 2016 akibat cedera
Claudio Marchisio midfielder Juventus dan juga Mattia
Perin kiper muda Genoa yang baru naik pangkat sebagai pelapis kedua Buffon ini
harus menepi dari kompetisi sebelum musim berakhir. Cedera yang diderita
keduanya hampir sama yaitu gangguan pada lututnya, yang mengharuskan untuk
dilakukan operasi. Pemulihan pasca operasi membutuhkan waktu yang cukup
panjang, sedangkan pelaksanaan Euro 2016 terhitung hanya kurang dua bulan lagi.
Cedera yang dialami oleh Marchisio didapat saat
Juventus menjamu Palermo di pekan ke – 33 Serie A. Kala itu pemain bernomor
punggung 8 ini harus ditarik keluar di menit 16 setelah lutut kirinya mengalami
benturan dengan gelandang Palermo, Franco Vasquez saat berebut si kulit bundar.
Detik itu juga pemain yang sempat menimba ilmu di akademi Juventus sejak tahun
1993 ini, harus ditandu keluar lapangan untuk mendapatkan perawatan intensif.
Kemenangan Juventus menghadapi Palermo kala itu harus
dibayar mahal saat tim medis mengumumkan bahwa Marchisio harus menepi lebih
awal dari lapangan hijau. Pengumuman tersebut juga sekaligus meruntuhkan
semangat pemain berusia 30 tahun ini karena harus mengubur impiannya berlaga di
Euro 2016. Belum ada kenangan manis yang diukir Marchisio selain menginjakkan
kakinya di final Euro 2012, namun Italia harus gigit jari atas keperkasaan sang
lawan kala itu, Spanyol.
Cedera hampir sama dirasakan oleh kiper flamboyan
Genoa, Mattia Perin namun di lutut sebelah kanannya. Musim yang cukup buruk
bagi kiper kelahiran 10 November 1992 karena dia mengawali dan mengakhiri musim
dengan cedera. Ketika awal musim Perin harus absen beberapa laga akibat cedera
bahu, kini dia mengakhiri musim lebih cepat dengan cedera lutut atau dikenal
dengan istilah ACL (Anterior Cruciate
Ligament).
Akibat ceddera yang cukup parah keputusan untuk segera
melakukan operasi dipercepat mengingat kondisi Perin yang cukup fit. Pada
tanggal 13 April lalu akhirnya Perin menjalani operasinya dengan Profesor pier
Paolo Mariani di klinik Villa Stuart. Dan beberapa minggu setelahnya, Perin
mulai memulihkan kondisi kakinya dengan sedikit latihan ringan. Cedera ini
sekaligus memupuskan harapannya berlaga di Euro 2016, dan kembalinya Perin
belum bisa dipastikan mengingat pemulihan fisik untuk cedera ligamen
membutuhkan waktu yang cukup lama.
Kecewa…? Tentu saja hal ini mengecewakan banyak pihak,
terutama bagi pemain itu sendiri dan timnas Italia. Sekalipun cedera mereka ini
dapat menguntungkan beberapa pihak untuk mengisi kekosongan posisi Marchisio
dan Perin. Conte yang paling disibukkan karena dia harus mencari pengganti
Perin secepatnya, tersedia beberapa nama namun belum bisa diputuskan sebelum
melihat performanya hingga akhir musim.
Lain halnya dengan Marchisio, karena sejauh ini Conte
jarang memasukkan namanya dalam skuad Italia yang berlaga dalam kualifikasi
Euro maupun friendly match. Beberapa
nama pengganti pun juga sudah tersedia, hanya tingga mengatur strategi agar
setiap lini dapat bekerjasama dengan padu saat berlaga.
Kekecewaan mendalam juga dirasakan oleh gadis antik
bermata lebar asal Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai fans militan Perin.
Bukan tanpa sebab, gadis ini merasa kebutuhan akan delusionalnya pada Euro 2016
nanti tidak akan terpuaskan meskipun hanya menyaksikan sang idola di bangku
cadangan. Bisa dipastikan hanya akan ada beberapa nama saja yang akan menjadi
fokusnya kelak seperti Leonardo Bonucci dan Stephan El Shaarawy.
Dikala sedih dan dalam tahap hati hancur berkeping-keping, rasa syukur terhadap Tuhan gak boleh lupa. Karena dibalik segala cobaan yang kita terima, banyak juga nikmat yang telah kita rasakan baik itu secara sadar maupun tidak. Aah Senin yang sangat random, sebenarnya ini tulisan menjurus tentang kegalauan hati seorang fans tapi sebagai awalan agar terlihat menarik ngomongnya sedikit wise lah ya. Kalau dilihat dari judul sudah terlihat sangat jelas apa yang membuat saya jadi kuurang semangat seharian ini, kecuali semangat untuk makan. Oooh kalo yang satu itu, dalam keadaan apapun selalu ada semangat tersendiri.
Yah Mattia Perin, si penjaga gawang nomor satu Genoa yang punya julukan Ed Warner inilah penyebabnya. Kala itu saya sering banget searching tentang talenta muda Italia ini. Mmh, alangkah baiknya saya ceritakan bagaimana saya bisa menemukan manusia berbulu yang ganteng ini. Jadi ceritanya saya sebagai fans Milan nonton apa yang dilakukan pemain diluar lapangan, tentunya yang bermanfaat dan menghasilkan uang sekaligus memanjakan mata para penikmat sepakbola. Kala itu sampai sekarang, Milan bekerjasama dengan sebuah rumah mode yang cukup terkenal di Italia sebagai penyedia baju resmi suit and tie mereka yaitu Dolce Gabbana. Karena Italia adalah gudang dari segala jenis manusia berwujud tampan, begitupun dengan pemain dari Milan oleh karena itu beberapa modelnya dari pemain itu sendiri tentunya yang sedang on fire. El Shaarawy, nah siapa fans Milan yang tidak kenal dengan talenta muda Italia keturunan Mesir ini? Selain permainan di lapangan yang cukup ciamik, wajahnya pun sangat komersil untuk dijadikan sebagai model D&G (Dolce Gabbana). Selain El Shaarawy masih ada satu nama lagi, yaitu Mattia De Sciglio bek tangguh asli dari akademi Milan ini juga turut ambil bagian dalam pemotretan iklan D&G. Sebagai pemanasan kalo mau liat gimana posenya El Shaarawy langsung aja cek video berikut:
Stephan El Shaarawy: 'Il Farone' as an Icon
Pada video yang salah satu talentanya Mattia De Sciglio, muncullah sosok yang sungguh menarik perhatian saya. Dengan tampilan yang sangat berbeda dengan ciri khas model D&G lainnya yang selalu tampil rapi, sosok ini memiliki rambut sedikit panjang dengan potongan shaggy. Rambutnya tidak hitam seperti kebanyakan pria Italia lainnya, malah terkesan sedikit coklat namun lebih dominan gelap. Karakter wajahnya sedikit lonjong, dan satu hal yang meyakinkan saya bahwa dia keturunan asli Italia adalah hidungnya yang begitu khas. Gayanya sedikit tengil dengan senyuman sembari mengangkat satu alisnya keatas, he is really nice. Dan saat membaca credit tittle, saya tau bahwa pemuda tersebut bernama Mattia Perin. Dari sinilah saya mulai kepo, segala hal mengenai kiper muda yang digadang-gadang akan menggantikan peran Gianluigi Buffon di bawah mistar timnas Italia.
Serie A's Young Talent become Fashion Icons in Dolce&Gabbana
Sebagai wanita, tentunya punya tingkat kepo yang sangat tinggi. Yah saya mencari dating history si Perin, dan tidak saya temukan sedikitpun indikasi dia menjalin hubungan dengan para wanita seksi seperti kebanyakan pemain sepakbola lainnya. Kemudian saya menemukan artikel yang membahas mengenai skandal di timnas Italia, bukan skandal besar seperti Calciopolli tapi skandal tentang pemainnya. Jadi kala itu jurnalis Italia atau sering disebut paparazzi mengatakan bahwa ada beberapa pemain Italia yang diduga memiliki kelainan orientasi seksual bahasa gaulnya gay dan si paparazzi ini menyebutkan seorang kiper meskipun tetap merahasiakan namanya. Yah karena gay di Italia merupakan hal yang tabu. Sayapun mengaitkan masalah ini dengan Perin, karena dia terlihat paling adem ayem madsalah wanita, dan yang membuat kecurigaan saya semakin kuat adalah akun instagramnya yang menggunakan nama unik @aittamnirep kala itu di gembok, privat gak sembarangan orang bisa akses. Dan beberapa saat kemudian si Perin mulai membuka akses dengan para penggemarnya, dan saya melihat postingannya yang lama, fotonya.dengan beberapa lelaki yang terlihat sedikit mencurigakan, gak sampe ciuman atau cuddle gitulah. Tapi ada beberapa postingannya yang sedikit membuat saya ragu kalo Perin gay, gambar wanita seksi yang yah bisalah untuk imajinasi liar para lelaki muda yang memiliki libido tinggi. Oooh stoooooop, kenapa saya jadi bahas libido sih, dasar random. Nah untuk visualisasi gimana sih bentukannya Perin, awas siapin tissue buat lap ingus sama air liur.
Pic 1: Mattia Perin
Oke saya mulai mengabaikan orientasi seksual Perin, selama ini saya cukup menikmati peran sebagai "fans" yang sedikit berlebihan hahaha. Kadang sayapun juga iseng kepo beberapa orang yang di tag oleh Perin di foto yang di postingnya. Dan kala itu, musim libur sepakbola Perin dan Bertolacci berlibur diatas yacht dengan beberapa wanita, yah bodohnya saya mengira itu hanya teman mereka, tak pernah sedikitpun saya curiga bahwa salah satunya adalah kekasih si Perin, aduuuujh nulis kekasih berat sekali ya. Dan dalam dua hari ini, saya dikejutkan dengan postingan instagram Perin dengan gambar anjing, bukan anjingnya yang menjadi fokus tapi captionnya "Buongiorno mammina @grgina #supertaz" nah dari sini saya mulai curiga kalo itu kekasihnya. Kepo? Jelas, sekali klik usernamenya dan blaaaam!!! Di private. Oke harus menahan kekecewaan karena gak bisa kepo. Tapi pagi tadi saya ingin menarik kata-kata saya mengenai akun @grgina yang di privat, karena isinya jauh lebih menyesakkan. Huwaaaaa, Perin cocok banget sama wanita satu ini. Karakter mereka pas, tengil, gak takut kotor, sayang hewan, petualang, dan begajulan. Meskipun enggan saya harus mengakui mereka cocok satu sama lain. Dan saya patah hati cyiiiin, kratak kratak ini hati saya.
Rapi, begitu rapi si Perin menyembunyikan hubungannya. Mungkin lebih tepatnya melindungi wanitanya dari fans bar-bar macam saya haha. Dan woi, apa ini dalam keadaan yang tidak memungkinkan begini playlist yang keputer di handphone saya adalah Obsessed by Mariah Carey, ini lagu kok ngehina banget. Aaaaaarghhhh!!!! Pen gigit pipinya baby Ed (mulai random).
"Ahhh Ohhhh.
Why you so obsessed with me?
Boy I want to know, lyin' that you're sexing me.
When everybody knows, it's clear that you're upset with me.
Ohh, finally found a girl that you couldn't impress,
Last man on the earth, still couldn't get this.
You're delusional, you're delusional,
Boy you're losing your mind.
It's confusing yo, you're confused you know,
Why you wasting your time?
Got you all fired up, with your Napoleon complex,
Seein' right through you like you're bathin' in Windex.
Huh, liriknya nyindir banget. Iya saya paham saya delusional persis kaya apa yang dikata si Mariah Carey. Puas?
Dan yang bikin saya iri adalah tuh si @grgina ini mantanya oke, enggak tau juga sih tuh mantannya apa bukan, mesra banget sih. Jadi saya menarik kesimpulan itu mantannya. Iri terus sih saya, huh. Yah mungkin karena si @grgina ini jago banget cari yang mukanya rupawan, apa emang spesies di Italia itu gak ada cowok dibawah standart, entahlah.
Sekali lagi saya bersyukur atas kejadian ini saya jadi bisa nulis lagi di blog ini, yang terpenting sama Tuhan saya dibukain jalan, disadarin kalo Perin tuh jauh, jauuuuuuh banget dari jangkauan (Sama bosnya Genoa aja deh, seri duitnya lebih bagus :D) *terus kapan sadarnya sih*. Ah dan satu lagi harus legowo, Perin udah punya kekasih yah. Ingat, kenyataan ini lebih bagus daripada mengetahui kalo idola kamu yang gantengnya melebihi kualitas excellent ternyata suka yang ganteng juga, yah meskipun sama-sama nyakitin sih. Yaudah deh, segitu aja delusionalnya *kemudian bersyukur setelah tahu kalo Mattia Perin staright*